Di tahun 1909, Dennis diminta oleh sebuah perkumpulan gereja untuk membangun sebuah bangunan peribadatan, dan pada suatu pertanyaan mengapa perlu berbentuk suatu gereja putih kecil dengan sebuah menara tinggi? Apakah harus mengarah ke atas? Lalu, Dennis bercerita kepada anggota perkumpulan mengenai seorang suci yang rindu untuk dapat melihat Tuhan, yang kemudian menaiki puncak gunung. Sesampainya di atas gunung, ia melihat ke langit menyebutkan nama Tuhan. Di saat yang bersamaan, terdengar sebuah suara yang mengajaknya kembali berjalan kebawah. Mungkinkah dia melihat Tuhan? Setelah itu dia harus kembali turun ke kaki gunung di mana orang-orangnya berada di sanalah dia bisa melihat wajah Tuhan.
Dimulai dari suatu cerita tsb, lalu Dennis sampai pada kesimpulan kenapa tidak mendirikan bangunan peribadatan yang tepat untuk para umat dengan membangun suatu gereja. Suatu bangunan peribadatan yang mampu digunakan untuk tempat pertemuan modern bagi para umat, tempat untuk belajar dan memahami ajaran dan keagungan Tuhan. Dan sebab itu, Dennis tidak melupakan untuk membuat ruang yang proporsional sesuai dengan tujuan juga membuatnya dengan sederhana dan alamiah. Jadi seperti apa bentuk bangunannya? jawabannya saat itu berada pada penggunaan material. Saat itu, hanya ada sedikit pilihan material sesuai dengan dana yang ada yaitu hanya berjumlah 50.000 dolar. Jenis lain yang perlu dipenuhi adalah kemampuan bangunan harus bisa menampung 500 orang. Dan pada akhirnya pilihan terakhir jatuh pada bahan yang kokoh yaitu beton.
Kemudian bagaimana dengan bentuk bangunan gereja tersebut. Dengan membayangkan bahwa bangunan ini akan berada di area yang ramai dan berisik oleh banyak lewatnya kendaraan, jalan keluar terbaik dengan menutup kedua bagian depan , namun jalan masuknya alihkan ke sebuah halaman di bagian tengah. Bangunan harus juga bisa menampung kegiatan gereja, termasuk juga sekolah Minggu, tempat hiburan, pesta dan lainnya. Agar dapat memenuhi seluruh kebutuhan ini, kesederhanaan dan keagungan ruang ibadat dapat menjadi terganggu. Pada akhirnya Dennis merancang suatu ruangan khusus, yaitu ruangan panjang dan bebas di bagian belakang, sebagai bangunan terpisah. Di area ini, pemisah ruang yang dapat dipindahkan pada waktu yang ditentukan. Pemisah ini menjadikan ruangan khusus sebagai bangunan yang terpisah dengan gereja tapi tetap terlihat harmoni untuk dilihat. Pintu masuk menuju kedua bangunan itu melalui penghubung antara kedua ruang tadi. Seperti banyaknya rumah modern saat ini banyak sekali coba saja cari rumah dijual di Yogyakarta yang menggunakan penghubung antar bangunannya. Pada waktu itu, Dennis menaruh mimbar khotbah dekat pintu masuk ruangan di bagian belakang ruangan. Maka dapat memberikan kesempatan kepada para umat untuk bisa memberi salam kepada sang pengisi khotbah. Penaruhan mimbar ini juga dapat menghindari terjadinya umat yang ingin keluar ruangan waktu kebaktian berjalan.
Sampai sekarang, Dennis hanya memberikan beberapa kesempatan dalam membangunan bangunan. Tapi dari apa yang telah dikerjakannya ia telah meninggalkan jasa yang hebat. yang merupakan hasil monumentalnya, membuat tempat peribadatan modern yang sangat pas. Cara konstruksinya dapat bertahan ratusan tahun biarpun ia telah tiada, pada tanggal 3 Juni 1960.

