Ruang Lingkup Antropologi

Salah satu syarat untuk bisa memasuki ruang lingku dari Antropologi terlebih di wilayah Indonesia, kita diwajibkan untuk paham mengenai etnografi dan etnolingustik. Etnografi di Indonesia sendiri dapat menggambaran tentang kehidupan manusia, serta kebudayaan dari berbagai suku bangsa yang tersebar di seluruh penjuru tanah air. Namun, keterbatasan dari luar lingkup materi wajib kita sampaikan pada jenjang sekolah menengah umum (SMU), dan kita jadikan suatu bahasan yang dapat dipelajari dengan memilih sebagian suku bangsa yang akan dibahas. Disamping itu, kita harus bisa menyesuaikan dengan tingkat penafsiran yang masih dapat dipahami terhadap cakupannya.

Antropologi sendiri merupakan suatu istilah yang lahir dari bahasa Yunan, yaitu lahir dari kata antropos yang memiliki arti manusia, serta logos yang memiliki arti ilmu. Seorang ahli telah memberi sebuah batasan dalam urusan antropologi, yang bahwasannya antropologi merupakan suati ilmu yang bertujuan untuk mempelajari mengenai pola tingkah kehidupan dari manusia. Namun, pendapat manusia sendiri sangatlah lugas, karena Manusia sendiri merupakan makhluk hidup yang dapat ditinjau dan dianalisis dari berbagai disiplin ilmu.

Ruang Lingkup Antroplogi

Ruang Lingkup Antroplogi

Antropologi juga merupakan sebuah disiplin ilmu, yang lahir pada abad ke-23 dari penggagasnya seperti Taylor Jhanson, Fraz, dan Fargan. Di negara Indonesia sendiri, antropologi terhitung sebagai ilmu yang sebenarnya sudah ada sejak lama.Raja Ningrat, memberikan batasan: “sebagai ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna bentuk fisik, dan kehidupan masyarakat, dan kebudayaannya.

Penduduk Desa Individualis atau yang berkelompok dalam perkumpulan, ada yang tergolong rendah berdasarkan ukuran ekonomi, (yang kebanyakan disebut  orang desa atau Gang kampung atau masyarakat tradisional), merupakan sebutan yang kurang pantas jika mereka di kategorikan sebagai masyarakat primitif.

Disisi lain, kita bisa akui bahwasannya mereka  bisa berpikiran maju dengan membuat sautu jembatan penghubung desa dengan desa lainnya yang terpisah oleh sungai yang lebar. Mereka bisa membuat jembatan dengan alat seadanya dan bahan yang minim. Akana tetapi daya pikir mereka bisa kita golongkan menyerupai cara kerja yang bersifat modern.

Comments are closed.